Proposal Penelitian

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } A:link { color: #0000ff } –>

PROPOSAL PENELITIAN

PENGGUNAAN MULTIMEDIA UNTUK PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN IPS TERPADU

DI SMP NEGERI 7 KLATEN


Oleh:

ARI WAHYUNI

NIM Q.100.070.579

KELOMPOK KLATEN 5


PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2009


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Kerangka Dasar Kurikulum 2006 salah satu prinsip pelaksanaan kurikulum adalah berpusat pada peserta didik. Upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri diutamakan agar siswa mampu membangun kemauan, pemahaman, dan pengetahuannya. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat siswa perlu terus-menerus diupayakan. Penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi menjadi sangat penting dalam rangka pencapaian upaya tersebut. Penyajiannya disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan siswa melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Kalau kita lihat manusia dari kebutuhan dan kegiatan dasarnya, secara natural manusia akan berbuat dan mengembangkan potensi manusiawinya dalam kehidupan yang dinamis dan multidimensional. Oleh karenanya pembelajaran IPS Terpadu bertolak landas dari kebutuhan dasar manusia dan dikembangkan secara multidimensional dengan media pendekatan yang komprehensif dan terpadu (Sota. 2007. “Merancang dan Menerapkan Model Pembelajaran IPS Terpadu dengan Menggunakan Pendekatan Humanistik”. (www.wordpress.com. 4 Juni 2008).

Pengelolaan pembelajaran IPS Terpadu di sekolah dalam era modern ini, atau secara lebih luas pengelolaan pendidikan, semakin bergantung pada tingkat kualitas dan antisipasi dari para guru untuk mendayagunakan berbagai sumber yang tersedia dan menyelenggarakan pembelajaran yang dapat menumbuhkan cara berpikir siswa yang kritis, jujur, kreatif, konsisten, dan berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan meningkatkan iman dan taqwa. Untuk itu, pengelolaan pembelajaran sangat memerlukan guru yang kreatif, selalu ingin tahu dan dinamis, sehingga ia juga dapat membangkitkan kreativitas dan keingintahuan pada siswanya. Pada prinsipnya siswa mempunyai motivasi dari dalam dirinya untuk belajar karena didorong oleh rasa ingin tahu.

Di era sekarang ini multimedia bukan lagi barang mewah, di sekolah bahkan di rumah telah banyak yang memiliki multimedia. Multimedia mudah didapat dan harganya semakin terjangkau dan multimedia dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran merupakan suatu sistem yang memiliki beberapa komponen saling terkait dan terpadu dalam mewujudkan keberhasilan proses belajar mengajar. Pembelajaran pada dasaranya suatu proses yang menumbuhkan perubahan, salah satunya adalah keterampilan dalam melakukan kegiatan tertentu. Kegiatan belajar mengajar dapat mencapai sasaran apabila situasi belajar yang tercipta menarik, menyenangkan, dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa untuk memahami materi yang disajikan.

IPS Terpadu merupakan bahan kajian yang terdapat dalam kurikulum yang didalamnya memuat materi geografi, sejarah, dan ekonomi. Pada prinsipnya mata pelajaran IPS Terpadu sangat dekat kehidupan di sekitar kita, seperti jual beli barang, kependudukan (demografi), keluarga berencana, dan sebagainya.

Kesulitan siswa dalam memahami IPS Terpadu antara lain masih memerlukan pengalaman konkrit (benda nyata) dalam memahami materi pembelajaran, sehingga hal-hal yang abstrak perlu divisualisasikan karena siswa belum mencapai tahap kematangan intelektual, sistem pembelajaran di tingkat sekolah dasar (SD) yang mungkin berbeda bila dibandingkan dengan tingkat sekolah berikutnya (SMP), dalam hal ini termasuk cara belajar, kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan dalam pembelajaran, penggunaan media oleh guru yang kurang tepat dan pengelolaan kelas yang dilakukan guru belum optimal.

Kondisi nyata di SMP Negeri 7 Klaten yang memiliki beberapa macam multimedia, seperti komputer, LCD, VCD pembelajaran, dan sebagainya belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran, untuk itu penelitian ini mengangkat judul “Penggunaan Multimedia Untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 7 Klaten”.

  1. Fokus dan Pertanyaan Penelitian

Dalam kaitannya dengan pembelajaran media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan yang berisi tujuan pembelajaran sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sehingga terjadi proses pembelajaran. Dalam hal ini media yang digunakan adalah multimedia. Sedangkan multimedia merupakan suatu alat yang terdiri dari piranti keras (hardware) dan piranti lunak (software). Prorposal ini visualisasi IPS Terpadu akan ditampilkan menggunakan software Microsoft PowerPoint.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka masalah yang kami kemukakan dalam makalah ini sebagai berikut:

    1. Bagaimana guru menggunakan multimedia secara optimal dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dalam memahami IPS Terpadu?

    2. Seberapa besar peran multimedia sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam memahami konsep IPS Terpadu?

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan penggunaan multimedia dalam pembelajaran IPS Terpadu, sedangkan tujuan khusus ingin mendeskripsikan penggunaan multimedia secara optimal dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dalam memahami IPS Terpadu dan peran multimedia sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dalam memahami konsep IPS Terpadu.

  1. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut :

    1. Manfaat Teoritis

Dapat digunakan sebagai bahan penelitian dan pengembangan sejenis berikutnya.

    1. Manfaat Praktis

      1. Peserta didik

        1. Meningkatkan motivasi belajar siswa dalam memahami konsep segiempat.

        2. Mengembangkan kemampuan abstrak siswa yang relatif rendah tentang konsep segiempat.

      2. Guru

        1. Menggunakan media pembelajaran yang tepat pada saat menyampaikan konsep segiempat.

        2. Meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran.

      3. Sekolah

        1. Memberikan sumbangan yang positif dalam kegiatan pemebelajaran.

        2. Meningkatkan mutu pendidikan khususnya mata pelajaran IPS Terpadu

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Kajian Teori

    1. Multimedia dalam Pembelajaran

Dalam proses belajar mengajar guru merupakan salah satu unsur yang memegang peranan penting, karena berhasil atau tidaknya siswa dalam kegiatan pembelajaran banyak dipengaruhi oleh peran guru. Pembelajaran dirasa menjemukan oleh siswa karena guru tidak menggunakan media yang sesuai. Penggunaan media yang tepat dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak dapat menumbuhkan motivasi dan kemampuan belajar dalam diri peserta didik.

Dukungan kemajuan teknologi telekomunikasi di Indonesia saat ini, bukanlah hal yang sulit bagi pemerintah untuk merealisasikan cita-cita mulia memeratakan pendidikan bagi seluruh rakyat. Masalahnya sekarang berpulang kembali kepada pemerintah, komitmen dan kesungguhan pemerintah untuk merealisasikan itu semua (Ahmizar, 2008. “Mengoptimalkan Multimedia sebagai Sarana Mencerdaskan Bangsa”. http://www.fahmi.az@hotmail.com.)

Media pembelajaran, menurut Hamalik (dalam Chotimah,2008: 1), adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan untuk lebih mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media berperan penting dalam proses komunikasi, termasuk belajar mengajar. Melalui proses komunikasi, pesan atau informasi dapat serap dan dihayati orang lain. Dalam proses belajar mengajar, media yang digunakan untuk memperlancar komunikasi belajar mengajar disebut media instruksional edukatif (“Macromedia Flash sebagai Media Pembelajaran”.www.disposabelies.com).

    1. IPS Terpadu

Melalui proses pembelajaran IPS Terpadu di SMP diharapkan siswa mampu mencapai tingkat berpikir secara formal. Pola berpikir formal kadang-kadang menimbulkan bagi sebagian peserta didik. Di sinilah peran guru bagaimana mengemas proses pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa untuk menanggulangi kesulitan berpikir formal, dalam pembelajaran sebaiknya dimulai dari konsep konkret agar siswa dapat memahami konsep formal. Perlunya media pembelajaran untuk menunjukkan konsep konkret, dan dijadikan titik acuan untuk penemuan konsep formal dalam pembelajaran membantu siswa meningkatkan motivasi dan pemahaman.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian : sosiologi, sejarah, geografi, dan ekonomi. Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat (Nursid Sumaatmaja dalam Diah Harianti, 2008 : 4. “Model Pembelajaran IPS Terpadu”. Depdiknas).

Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran kurikulum.

Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA). Model pembelajaran terpadu pada hakekatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, dalam Diah Harianti, 2008: 4. “Model Pembelajaran IPS Terpadu”. Depdiknas.)

Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu (Williams, dalam Diah Harianti, 2008: 4. “Model Pembelajaran IPS Terpadu”.Depdiknas).

Namun demikian, pelaksanaannya di sekolah SMP/MTs pembelajaran IPS sebagian besar masih dilaksanakan secara terpisah. Pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS masih dilakukan dengan bidang kajian masing-masing ( sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi) tanpa ada keterpaduan di dalamnya. Hal ini tentu saja menghambat ketercapaian tujuan IPS itu sendiri yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang IPS tersebut.

  1. Penelitan Terdahulu

Untuk meningkatkan kualitas belajar siswa, Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Pesri Kendari memrogramkan fasilitas pembelajaran multimedia yang rencananya akan difungsikan pada tahun ajaran 2008/2009 mendatang. Paket pembelajaran merupakan bantuan dari Kanwil Departemen Agama Sultra sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas belajar mengajar di kalangan madrasah. Kepala MAS Pesri Kendari, Dra Hj Nurhayati mengatakan, saat ini sedang menunggu perangkat pembelajaran multimedia yang rencananya akan tiba sebelum tahun ajaran baru dimulai. “ Perangkat pembelajan multimedia dimaksud berupa proyektor, LCD, TV dan CD yang akan digunakan untuk membantu memudahkan proses belajar mengajar yang lebih diprioritaskan untuk pelajaran metematika dan sains,” (Kendari Pos. Rabu, 11 Juni 2008. www.kendaripos.com)

Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama menggunakan multimedia dalam pembelajaran, perbedaannya adalah pada mata pelajaran yaitu matematika dan sain, untuk peneliti fokus pada IPS Terpadu dan jenjang SMP, jadi penelitian ini masih layak dilaksanakan.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

    1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk kata-kata dan gambar, kata-kata disusun dalam kalimat, misalnya kalimat hasil wawancara antara peneliti dengan informan. Sesuai dengan karakter tersebut, penelitian kualitatif, yaitu berusaha mendapatkan informasi yang selengkap mungkin mengenai bagaimana pembelajaran IPS Terpadu dengan menggunakan multimedia.

    1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Studi etnografi (ethnographic studies) mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas, tetapi studi etnografi biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa, kepercayaan, ritual dan cara-cara hidup (Sukmadinata, 2006: 62).

Inti etnografi adalah upaya untuk memperlihatkan makna-makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna tersebut terekspresikan secara langsung dalam bahasa, dan di antara makna yang diterima, banyak yang disampaikan hanya secara tidak langsung melalui kata-kata dan perbuatan, sekalipun demikian, di dalam masyarakat, orang tetap menggunakan sistem makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan orang lain, serta untuk memahami dunia tempat mereka hidup. Sistem makna ini merupakan kebudayaan mereka, dan etnografi selalu mengimplikasikan teori kebudayaan (Spradley, 2007 : %).

Hasil akhir penelitian komprehensif etnografi adalah suatu naratif deskriptif yang bersifat menyeluruh disertai penafsiran seluruh aspek-aspek kehidupan dan mendeskripsikan kompleksitas kehidupan dalam hal ini adalah tentang pembelajaran IPS Terpadu menggunakan multimedia.

  1. Tempat dan Waktu Penelitian

  1. Tempat Penelitian

Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMP Negeri 7 Klaten.

  1. Waktu Penelitian

Aktivitas penelitian ini secara keseluruhan dilaksanakan selama enam bulan, sejak bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2009.

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah kepala sekolah, guru, dan siswa.

  1. Objek Penelitian

Dalam penelitian ini objek penelitiannnya adalah yang terkait dengan masalah-masalah yang akan diteliti, yaitu penggunaan multimedia dalam pembelajaran IPS Terpadu.

  1. Metode Pengumpulan Data

  1. Observasi

Jorgensen dalam Mulyana (2004:164), mengemukakan bahwa metode pengamatan berperanserta dapat didefinisikan berdasarkan tujuh ciri yaitu : minat khusus makna dan interaksi manusia berdasarkan perspektif orang-orang dalam atau anggota-anggota situasi atau keadaan tertentu, penerapan peran partisipan yang menuntut hubungan langsung dengan informan.

Observasi ini digunakan untuk mengamati secara langsung dan tidak langsung tentang perilaku siswa dan guru dalam pembelajaran IPS Terpadu.

  1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan pewawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moloeng, 2007:186)

Wawancara dipergunakan untuk mengadakan komunikasi dengan pihak-pihak terkait, antara lain kepala sekolah, wakil kepala sekolah urusan kurikulum, guru dan siswa dalam rangka memperoleh penjelasan tentang penggunaan multimedia dalam pembelajaran IPS Terpadu.

  1. Teknik Analisis Data

  1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan kegiatan merangkum catatan-catatan lapangan dengan memilah hal-hal yang pokok yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, rangkuman catatan-catatan lapangan itu kemudian disusun secara sistematis agar memberikan gambaran yang lebih tajam serta mempermudah palacakan kembali apabila sewaktu-waktu data diperlukan kembali.

  1. Display Data

Display data berguna untuk melihat gambaran keseluruhan hasil penelitian, baik yang berbentuk matrik atau pengkodean, dari hasil reduksi data dan display data itulah selanjutnya peneliti dapat menarik kesimpulan data memverifikasikan sehingga menjadi kebermaknaan data.

  1. Kesimpulan dan Verifikasi

Untuk menetapkan kesimpulan yang lebih beralasan dan tidak lagi berbentuk kesimpulan yang coba-coba, maka verifikasi dilakukan sepanjang penelitian berlangsung sejalan dengan memberchek, trianggulasi dan audit trail, sehingga menjamin signifikansi hasil penelitian.

  1. Keabsahan Data

Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik trianggulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut, dan teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lainnya.

Menurut Moloeng (2007:330), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.

Trianggulasi dilakukan melalui wawancara, observasi langsung dan observasi tidak langsung, observasi tidak langsung ini dimaksudkan dalam bentuk pengamatan atas beberapa kelakuan dan kejadian yang menghubungkan diantara keduanya. Teknik pengumpulan data yang digunakan akan melengkapi dalam memperoleh data primer dan sekunder, observasi dan interview digunakan untuk menjaring data primer yang berkaitan dengan kesiapan sekolah dalam penerapan pembelajaran berbasis mencari informasi, digunakan untuk menjaring data sekunder yang dapat diangkat dari berbagai dokumentasi tentang lingkungan kerja.

Tahap-tahap dalam analisis data dalam suatu penelitian, yaitu tahap orintasi, tahap eksplorasi dan tahap member chek. Tahap orientasi, dalam tahap ini yang dilakukan peneliti dengan melakukan pra survey ke lokasi yang akan diteliti, dalam penelitian ini, pra survey dilakukan peneliti di lokasi penelitian, melakukan dialog dengan kepala sekolah, beberapa perwakilan guru, juga karyawan dan peserta didik. Kemudian peneliti juga melakukan studi dokumentasi serta kepustakaan untuk melihat dan mencatat data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Tahap eksplorasi, tahap ini merupakan tahap pengumpulan data di lokasi penelitian, dengan melakukan wawancara dengan unsur-unsur yang terkait, dengan pedoman wawancara yang telah disediakan peneliti, dan melakukan observasi tidak langsung tentang kondisi sekolah dan mengadakan pengamatan langsung tentang lingkungan kerja. Tahap member chek, setelah data diperoleh di lapangan, baik melalui observasi, wawancara ataupun studi dokumentasi, dan responden telah mengisis data kuesioner, serta responden diberi kesempatan untuk menilai data informasi yang telah diberikan kepada peneliti, untuk melengkapi atau merevisi data yang baru, maka data yang ada tersebut diangkat dan dilakukan audit trail yaitu menchek keabsahan data sesuai dengan sumber aslinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmizar, Fahmi. 2008 “Mengoptimalkan Multimedia sebagai Sarana Mencerdaskan Bangsa”. http://www.fahmi.az@hotmail.com.

Arikunto, Suharmi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Chotimah, Chusnul. 2008. “Macromedia Flash sebagai Media Pembelajaran”. www.disabelelies.com.

Depdiknas. 2007. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta Direktorat Dikmenum.

Harianti, Diah. 2008.”Model Pembelajaran IPS Terpadu”. Depdiknas.

Moleong, Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Mulyana, Dedy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdiknas.

Sota, Pakde. 2007. “ Merancang dan Menerapkan Model Pembelajaran IPS Terpadu dengan Menggunakan Pendekatan Humanistik”. www.wordpress.com. 4 Juni 2008

Spradley, P. James. 2007. Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Sumnadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: